SEJARAH NETRAL ? oleh Ust. Anang Prasetyo

narsum menulis

Dalam kajian sejarah , sekalipun fakta nya sama, namun pembacaan atasnya pasti berbeda !.
Jika anda berharap Netral, maka netral itu sendiri adalah tidak ada. Non sense !.
Perbedaan tsb adalah wajar, karena latar belakang ideologi, sudut pandang , worldview/alam pandang, psikologi, yg jelas berbeda, dan melatar belakangi setiap kajian sejarah.

justru yg tidak wajar adalah jika kita memilih netral, ini dinamakan ambigu. Alias tidak bersikap!. Sikap dichotomis ini adalah produk pemikiran barat, yang dari lahirnya mengalami cacat bawaan, yakni sekularisme,  memisahkan (lebih tepat menghilangkan) integrasi wahyu  dg aqal.

Sejarah Java Oorloogh, perang Diponegoro, ia dan pasukan ulama serta santri distigmakan sebagai EKSTRIMIS ( radikalis, teroris, jk memakai istilah saat ini). Bagi kita beliau adalah Pahlawan sejati, Ratu Adil ! Yg menjadi penyulut semangat tanding dan pertarungan  terhadap Gold, Glory & Gospel nya Belanda.
3 pilar tsb menurut Dr Hamid Fahmy Zarkasyi, berkolaborasi secara sistematik, bahkan hingga kini, dalam menguasai Muslim di seantero dunia. Yakni Kolonialisme, Orientalisme dan Missionarisme.

Kolonialisme Belanda, yg berkolaborasi dg para Orientalis (contoh, Snouck Hourgronje) dan Misionaris (kristenisasi) di lingkungan keraton Ngayogyakarto demikian marak. Dan inilah pemicu utama perang Diponegoro ( ssssttt….benarkah bu Hemas itu kristen ?, juga penyokong utama zionis dg Rotary Club nya?).

Bandingkan dg buku sejarah di SD, SMP,SMA yg kita baca, dimana P Diponegoro marah, karena patok patok Belanda menabrak wilayah pekuburan moyangnya. Jikapun ini benar, ia hanya sebagai pemicu akhir, bukan pemicu utama.

Sehingga, demikianlah, kedudukan jarak pandang, sudut pandang dan alam pandang , sungguh menentukan kejernihan dan ketepatan dalam memandang sebuah sejarah.
Persis sebagaimana asli kata sejarah, dari bahasa Arab syajaroh, yg berarti pohon, dimana bisa kita lacak secara tepat pertumbuhan dari mana asal bijinya, pohonnya bahkan ranting daunnya secara tepat (hal ini bisa dilacak dari syajaroh penulisan Quran dan Hadist yg secara presisi menentukan kadar keshohihan/kevalidan sebuah sumber Wahyu dalam penulisan dan kandungannya).

Bandingkan dg History, dari bhs Inggris He Story = History. Kisah si Dia. Sekedar dia berkisah.
Ini secara metodologis dan epistemologis terdapat perbedaan yg sungguh substansial. Diantara keduanya, ada yg bisa sebagian dipertemukan, sebagian lain tidak mungkin disatukan.
Bukan saja ikatan kimiawi(chemistry) yg tidak bisa disatukan, namun secara fisikawi (frekwensi dan gelombang) bahkan secara biologis pun, serta hadist Al Arwaahu junuudun Mujannadah, maka  kedua makhlug (baca Barat & timur secara luas)  itu ada sebagian persamaan sekaligus perbedaan yg tidak bisa disamasatukan.

( Bersambung )

Share Button